Jumat, 14 Maret 2014

Topic 3 : Big Data



Big Data



PAPER KELOMPOK
TOPIK-TOPIK LANJUTAN
SISTEM INFORMASI



Oleh


Kevi Rizkianto – 1501193681

Malvin Prawono - 1501169146
Michael Samuel C – 1501148204
Stefannus Danny – 1501152012

06PJM / 2








Binus University
Jakarta
2014


Binus University

Jurusan Sistem Informasi
Paper Kelompok Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi
Semester Genap tahun 2014

Big Data

Kevi Rizkianto – 1501193681
Malvin Prawono - 1501169146
Michael Samuel C – 1501148204
Stefannus Danny – 1501152012

06PJM / 2


Abstrak
Pada awalnya tahun 1970-2000 data yang dibangun meruapakan data dengan model terstruktur dan merupakan relational database seperti MySQL, oracle, dan lain-lain. Lalu pada tahun 1995 berikutnya mulai dibangun suatu business intelligence yang menggunakan structured dan relational database dengan system seperti cognos, pentaho dan lain-lain. Pada 2010 hingga sekarang dibangun suatu system yang memiliki tujuan 3V (volume, velocity, varity) atau 4V (ditambah value), dan dengan bermacam teknologinya seperti map reduce, high performance computers cluster dan lain-lain.
Artinya Big Data merupakan bagian dari intelijen bisnis, Big Data dapat digunakan untuk membentuk suatu bisnis yang memiliki intelijen guna mendukung pengambilan keputusan. Namun dalam hal ini ada beberapa hal yang berbeda dari segi volume yang bukan hanya jumlah data yang banyak, namun pertumbuhan data yang sangat pesat sehingga dalam rentang waktu yang pendek data dapat bertumbuh dengan sangat cepat dan besar (velocity), dan data yang ada memiliki variasi yang sangat banyak (variety) tentunya dalam big data sendiri terutama dalam pembentukan datawarehouse sudah banyak dilakukan ekstraksi transform load untuk menanggulanggi varietas dari data tersebut sehingga data dapat menjadi standar baik dibersihkan dari berbagai noise juga dilakukan transformasi sehingga data jauh lebih sesuai dengan proses bisnis yang ada atau yang sedang berjalan bagi organisasi tertentu.
Business Intelligence yang didalamnya terdapat pemanfaatan big data pun membutuhkan suatu teknologi yang dapat mendukung proses bisnis yang ada didalam intelijen bisnis itu sendiri, sehingga dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Sehingga perlu dibangun suatu infrastruktur yang tepat dan dapat mengatasi kebutuhan big data yaitu salah satunya adalah proses pengolahan data yang sangat cepat walaupun diwaktu yang sama data berukuran besar dan tumbuh dengan cepat.
Yang menjadi masalah dan tantangan adalah akusisi data, recording data, ekstraksi, cleaning, anotasi, integrasi, agregasi, representasi, analisis, modeling, interpretasi, dan visualisasi. Big data sendiri memiliki penerapan dan manfaat untuk berbagai bidang seperti yang sudah disebutkan diatas sebelumnya.
Kata Kunci

Big Data, Business Intelligence

















BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Akhir-akhir ini, istilah 'big data' menjadi topik yang dominan dan sangat sering dibahas dalam industri IT. Banyak pihak yang mungkin heran kenapa topik ini baru menjadi pusat perhatian padahal ledakan informasi telah terjadi secara berkelangsungan sejak dimulainya era informasi. Perkembangan volume dan jenis data yang terus meningkat secara berlipat-lipat dalam dunia maya Internet semenjak kelahirannya adalah fakta yang tak dapat dipungkiri. Mulai data yang hanya berupa teks, gambar atau foto, lalu data berupa video hingga data yang berasal system pengindraan.

Hingga saat ini, definisi resmi dari istilah big data belum ada. Namun demikian, latar belakang dari munculnya istilah ini adalah fakta yang menunjukkan bahwa pertumbuhan data yang terus berlipat ganda dari waktu ke waktu telah melampaui batas kemampuan media penyimpanan maupun sistem database yang ada saat ini. Kemudian, McKinseyGlobal Institute (MGI), dalam laporannya yang dirilis pada Mei 2011, mendefinisikan bahwa big data adalah data yang sudah sangat sulit untuk dikoleksi, disimpan, dikelola maupun dianalisa dengan menggunakan sistem database biasa karena volumenya yang terus berlipat. Tentu saja definisi ini masih sangat relatif, tidak mendeskripsikan secara eksplisit sebesar apa big data itu. Tetapi, untuk saat sekarang ini, data dengan volume puluhan terabyte hingga beberapa petabyte kelihatannya dapat memenuhi definis MGI tersebut.

Di lain pihak, berdasarkan definisi dari Gartner, big data itu memiliki tiga atribute yaitu : volume , variety , dan velocity. Ketiga atribute ini dipakai juga oleh IBM dalam mendifinisikan big data. Volume berkaitan dengan ukuran, dalam hal ini kurang lebih sama dengan definisi dari MGI. Sedangkan variety berarti tipe atau jenis data, yang meliputi berbagai jenis data baik data yang telah terstruktur dalam suatu database maupun data yang tidak terorganisir dalam suatu database seperti halnya data teks pada web pages, data suara, video, click stream, log file dan lain sebagainya. Yang terakhir, velocity dapat diartikan sebagai kecepatan dihasilkannya suatu data dan seberapa cepat data itu harus diproses agar dapat memenuhi permintaan pengguna.

Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa tertarik untuk mengangkat pembahasan yang dirumuskan dalam judul “Apakah yang dimaksud dengan Big Data?”

1.2  Ruang Lingkup

Mengingat luasnya cakupan ruang lingkup big data, maka ruang lingkup yang dibahas dibatasi pada :

1.      Penjelasan tentang Big Data .
2.      Kegunaan Big Data.

1.3  Tujuan dan Manfaat

Berdasarkan pembahasan pada latar belakang, maka dapat ditentukan tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui perkembangan big data yang ada.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat-manfaat sebagai berikut :

1.      Untuk mengetahui definisi atau pengertian dari Big Data.
2.       Untuk mengetahui perbedaan dari Big Data dan Business Intelligence.

1.4  Metodologi Penelitian

Metode yang digunakan terdiri dari beberapa bagian, yaitu :

1.      Studi pustaka

Metode pengumpulan informasi yang digunakan melalui studi artikel media internet dan buku-buku referensi yang dapat dijadikan sumber dan panduan dalam penyusunan penulisan ini.




2.      Metode Analisis

Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menganalisis dan me-review perkembangan Disaster Recovery Planning yang ada di Indonesia.

1.5  Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembahasan dan memberikan gambaran yang sistematis dalam memahami topik yang disajikan, kami membagi paper ini ke dalam bagian-bagian berupa bab yaitu :

BAB I    : Pendahuluan
                 Dalam bab ini diuraikan tentang masalah pokok yang dibahas dalam paper ini, yang terdiri dari Latar Belakang, Ruang Lingkup, Tujuan dan Manfaaat, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan.


BAB II  : Landasan Teori
Dalam bab ini akan menguraikan teori atau konsep yang melandasi hal-hal yang terdapat dalam penelitian ini, secara umum dijelaskan tentang teori-teori yang berhubungan dengan kinerja sistem informasi baik dikutip dari berbagai referensi maupun hasil riset yang didapat.

BAB III : Pembahasan
Dalam bab ini berisi hasil penelitian yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan dan manfaat yang ditetapkan pada pendahuluan. Lalu menunjukkan bagaimana pemikiran atau temuan-temuan diperoleh, menginterpretasikan temuan, dan mengaitkannya dengan teori yang digunakan.

BAB IV : Penutup
Dalam bab ini penulis akan menarik bebarapa kesimpulan berdasarkan petunjuk dari buku-buku referensi, internet, dan seminar teori-teori lanjutan sistem informasi serta saran yang mungkin akan diterapkan untuk kemajuan perusahaan.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1  Big Data

Big data adalah istilah untuk koleksi set data begitu besar dan kompleks sehingga menjadi sulit untuk memproses menggunakan on-hand tools manajemen database atau aplikasi pengolahan data tradisional. Tantangan termasuk capture, kurasi, penyimpanan, pencarian, berbagi, transfer, analisis dan visualisasi.


Kecenderungan untuk set data yang lebih besar adalah karena informasi tambahan diturunkan dari analisis set besar tunggal data terkait, dibandingkan dengan memisahkan set yang lebih kecil dengan jumlah data yang sama, yang memungkinkan korelasi harus ditemukan untuk "tren bisnis spot, menentukan kualitas penelitian, mencegah penyakit, menghubungkan kutipan hukum , memerangi kejahatan, dan menentukan kondisi real-time lalu lintas jalan. ". (Wikipedia)

2.2  Business Intelligence

Business intelligence (BI) adalah seperangkat teori, metodologi, arsitektur, dan teknologi yang mengubah data mentah menjadi informasi yang bermakna dan berguna untuk tujuan bisnis. BI dapat menangani sejumlah besar data tidak terstruktur untuk membantu mengidentifikasi, mengembangkan dan sebaliknya menciptakan peluang baru. BI, dalam kata-kata sederhana, membuat menafsirkan data tebal ramah. Memanfaatkan peluang baru dan menerapkan strategi yang efektif dapat memberikan keunggulan pasar yang kompetitif dan stabilitas jangka panjang. (Wikipedia)







BAB III
PEMBAHASAN

3.1 TITIK PEMBEDA BIG DATA

Sebagian dari Anda mungkin bertanya “Apa yang membedakan big data dengan sekumpulan data dalam jumlah yang banyak? Apakah memungkinkan untuk menyamakan dua hal tersebut dalam satu istilah?”

Nyatanya, big data adalah berbeda dengan sekumpulan data-data yang dikumpulkan secara random dan dianalisis secara terpisah. Big data tepatnya dibentuk atas tiga dimensi, yang pertama adalah kuantitas.

Kuantitas dari big data selalu meningkat seiring berjalannya waktu, terlebih lagi dengan kemajuan teknologi yang memudahkan perusahaan untuk mendokumentasikan informasi digital yang datang dari berbagai sumber seperti smartphones, media sosial, dan social barcode.
Dimensi kedua yang menjadi fondasi dari big data adalah variasi. Big data memiliki keanekaragaman data yang didapatkan dari lingkungan internal dan eksternal perusahaan, layaknya studi tentang gaji dan demografi tenaga kerja. Variasi juga mengacu pada jenis data yang terstruktur dan tidak terstruktur. 

Data yang terstruktur merupakan data yang bersifat standar dan relasional, seperti HRIS, sistem akunting, dan sistem perencaaan sumber daya perusahaan. Berbeda halnya dengan data yang tidak terstruktur, data tersebut didapatkan dari sumber informasi yang lebih luas seperti pernyataan lisan/tulisan dari subjek penelitian, surel, gambar, video, hingga postingan di social media.
Kecepatan adalah dimensi terakhir yang membentuk big data. Kecepatan atau velocity mereferensi kepada peningkatan pengumpulan data dan seberapa cepat data yang dikumpulkan harus dievaluasi dan diaplikasikan untuk meningkatkan nilai bisnis.
 
Dari ketiga dimensi big data yang telah dipaparkan, maka dapat dipahami bahwa big data merupakan manifestasi dari peningkatan jumlah dan variasi data yang datang secara cepat dari berbagai media. Proses utilisasi big data tidak selesai pada pengumpulan data yang beragam, melainkan terus berlanjut seiring dengan perusahaan mentransformasikan data-data mentah menjadi informasi yang savvy, terukur, dan dapat dimengerti. Setelah itu perusahaan senantiasa mengkomparasikan hasil interpretasi informasi dengan objektif yang ingin dicapai, dari situ perusahaan dapat menilai apakah situasi, kebijakan, atau strategi bisnis perusahaan telah secara positif berkontribusi terhadap pencapaian goals. 

Ada dua teknologi dalam infrastruktur dalam Big data yaitu :
  1. High Performance Computing Cluster (HPCC) atau dapat disebut sebagai Data Analytics Supercomputer (DAS)
  2. Hadoop Platform (Map Reduced-Based Platform)
Dari kedua pendekatan teknologi tersebut terdapat perbedaan yang cukup signifikan (dari segi fungsi) dan juga terdapat kemiripan dalam proses yang berjalan didalamnya. Kemiripan dari dua teknologi tersebut adalah sama-sama memanfaatkan lebih dari satu komputer dalam melakukan proses penarikan informasi ataupun pemrosesan berbagai informasi atau bahkan dapat terlihat keduanya menggunakan konsep kluster pada arsitektur teknologi yang digunakan. Pada dasarnya keduanya pun dapat diintegrasikan dengan baik guna saling mendukung satu sama lain.

High Performance Compputing Clusters ini sendiri pada dasarnya membangun suatu super komputer yang terdiri dari lebih dari satu komputer dengan spesifikasi tertentu (biasanya sama) untuk saling membantu menopang, atau membagi tugas satu sama lain sehingga bersama-sama dapat melakukan processing terhadap suatu data, terutama dalam hal pencarian data. Proses besar yang biasanya berjalan sendiri adalah seperti, Ekstrak, Transform, dan Load, lalu setelah itu dilakukan analisis untuk mendapatkan informasi yang lebih sesuai dengan kebuthan bisnis organisasi tersebut.

Sedangkan Hadoop Platform sendiri merupakan suatu project teknologi yang dikembangkan oleh apache dalam mengelola data besar sehingga jauh lebih efektif dan efisien.


Dalam hadoop sendiri terdiri dari berbagai komponen, bahkan hingga hadoop sendiri memiliki distributed file system sendiri yang disebut dengan (HDFS). Kelebihan dari dari HDFS ini sendiri adalah :
  • Fault tolerance, dan di-deploy untuk low cost hardware
  • Write Onece, Read many, merupakan koherensi sederhana, dan terlebih lagi framework yang dibangun dalam hadoop ketika kita akan menggunakan hadoop, menggunakan teknologi java.
  • Memindahkan komputasi/proses lebih cepat dari memindahkan data.
  • Mirip Google File System, tetapi HDFS membagi file menjadi block dalam cluster node yang terdistribusi.
  • Core component : master vs slave, name node vs data node, job tracker vs task tracker.
Pada masa ini terdapat perbedaan Sistem manajemen Basis Data, yang pada dasarnya basisdata memiliki korelasi antar data yag biasanya kita sebt dengan data yang sudah terstruktur atau terorganisasi, dan perangkat system manajemen basis datanya yang merupakan perangkat lunak yang dapat digunakan untuk mengelola basis data seperti MySQL, Oracle, PostgreSQL dan lain-lain. Pada saat init terdapat kebutuhan lain dari manajemen basis data dengan adanya big data atau menjadi Sistem Manajemen Big Data. Beriku adalah penyebab kenapa terdapat kebutuhan Manajemen Big Data tersebut:
  1. Tidak semua persoalan pengolahan data dapat diselesaikan dengan cara terbaik menggunakan traditional relational DBMS.
  2. DBMS konvensional tidak cukup untuk big data karena:
    1. Kecepatan akses (isu volume)
    2. Kesederhanaan set up
    3. Kebutuhan representasi struktu/skema yang lebih longgar (isu variety)
    4. Kebutuhan pengelolaan data yang berbeda (ACID tidak sepenuhnya diperlukan), missal connectedness.
    5. Kebutuhan arsitektur terdistribusi (scale out).

Sehingga dibangun berbagai perangkat lunak yang dapat mengatasi kebutuhan tersebut namun masingmasing teknologi memiliki karakteristik dalam proses pengolahan yang berbeda, berikut contohnya :
  1. Column Oriented
    • Big table (google), Hbase, Cassandra (Facebook)
  2. Document Oriented
    • CouchDB, MongoDB
  3. Graph-Oriented
    • Neo4j, Virtuoso
  4. Key-value Oriented
    • DynamoDB (Amazon), Riak
Dari beberapa contoh DBMS diatas tersebut terlihat bahwa ada perbedaan mendasar pada masing DBMS untuk big data tersebut adalah pada orientasi masing-masing database management system. Biasanya system untuk manajemen basis data untuk  Big Data yang digunakan adalah NoSQL yang pada awalanya ditujukan oleh para komunitas yang tidak menyukai penggunakan SQL sebagai “tidak menggunakan SQL” namun sekarang karena kesadaran ternyta kita tidak bias sepenuhnya lepas terhadap SQL ini, dirubah menjadi “Not Only SQL” (NoSQL). 

NoSql ini merupakan DBMS yang disebutkan sebelumnya (4 point di atas). NoSQL memiliki perbedaan merupakan database yang tidak berelasi, karena tidak adanya kebutuhan connectedness yang sudah disebutkan sebelumnya, dan biasanya bersifat terdistribusi dan scale out (secara horizontal). Tanpa ada skema khusus sehingga lebih longgar terhadap skema, dan penggunakan Application Programming Interface yang lebih sederhana dalam penggunaan manipulasi atau processing data. Juga menerapkan perinsip BASE, buka ACID.

Yang paling terkenal sendiri untuk teknologi NoSQL ini adalah Hadoop dengan map reducenya yang antara versi 1.0 dan 2.0 nya memiliki perbedaan yang cukup signifikan terutama dalam model frameworknya, yang kedua adalah Document Oriented yang memiliki konsep hirarki dalam dokumen suatu data, dan biasanya doumen di enkapsulasi dan encoding dalam format standar XML,JSON, YAML, dan lain-lain. Sedangkan Graph oriented merupakan DBMS yang memrepresentasikan model data graph, yang memperlihatkan keterhubungan antar setiap data.

Dalam proses mining (datamining) dengan adanya big data ini sendiri cukup menguntungkan karena datamining membutuhkan data yang banyak sehingga menghasilkan model yang jauh lebih general namun memiliki akurasi yang tinggi. Namun dengan adanya big data ini sendiri datamining diharuskan menerima tantangan bagaimana melakukan datamining dengan skala yang sangat besar dan terdistribusi juga dengan variety data yang sangat variatif.

Sehingga diharapkan dengan pemanfaatan infrastruktur teknologi dari Big Data yang tepat guna dapat mendukung proses bisnis yang ada menjadi jauh lebih baik terutama dalam proses pengambil informasi, knowledge dan wisdom guna mendukung dalam pengambil keputusan pada suatu organisasi tertentu baik itu profit maupun non-profit, baik itu swasta maupun pemerintah.

3.2 MANFAAT DARI BIG DATA

Big data dapat dikonsiderasikan sebagai suatu investasi, dimana implikasi yang nyata baru dapat dirasakan apabila proses penelitian dan interpretasi big data telah dirampungkan dan menghasilkan strategi bisnis yang solutif dan implementatif.

Manfaat pertama dari pemanfaatan big data adalah perusahaan memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan bisnis yang didasarkan atas data yang ilmiah dan terukur, bukan berdasarkan common sense, intuisi, atau kebijaksanaan yang bersifat praktis.

Selama bertahun-tahun, HR telah menggunakan data tidak terstruktur dari jawaban karyawan dalam survei engagement, performance review, dll. Di era big data ini, data tak terstruktur tersebut datang dari sumber dalam dan luar organisasi, termasuk dari social media, blog, wiki, email, dan lain-lain. Semua sumber ini akan memberikan semakin banyak insight terhadap keterlibatan karyawan terhadap perusahaan.

Starbucks mendapatkan masukan tentang motivasi karyawannya dari survei dengan banyak pertanyaan terbuka. Starbucks mempekerjakan mahasiswa paska sarjana untuk membantu mereka membuat analisa konten dari informasi yang jumlahnya masif tersebut. Tools untuk mengotomatisasikan proses ini masih dalam tahap pengembangan.

Menurut Ranjan Dutta, direktur pengukuran dan predictive analytics pada PwC Saratoga, teknik analisa otomatis terhadap data tak terstruktur sebagian besar masih dalam tahap awal pengembangannya. Tetapi kemampuan tools-tools seperti ini akan berkembang cepat dalam 5 tahun ke depan. Menurutnya, perusahaan seperti SAP, Oracle, dan Workday saat ini terus mengembangkan perangkat lunak yang terus memudahkan analisa big data.

Baru sedikit organisasi HR yang telah menggunakan data dari situs jejaring sosial. Selain Juniper yang telah disebutkan di atas, organisasi lain yang banyak menggali manfaat dari Linkedin adalah Thrivent. Thrivent mencari kandidat yang memiliki semangat entrepreneurial dan menemukan Linkedin adalah alat yang efektif untuk melakukan pencarian semacam ini.

Facebook dan situs jejaring sosial lain juga menjanjikan. FedEx misalnya, melakukan studi korelasi antara data karyawan dengan data kepuasan konsumen. Mereka mencari tahu bagaimana perbandingan apa yang dikatakan karyawan tentang FedEx dalam situs jejaring sosial dan situs web karir dengan apa yang dikatakan karyawan dalam survey engagement. “Karyawan adalah duta brand, dan social media adalah seperti mikrofon besar yang menyuarakan tentang perusahaan Anda,” ujar Bennett. “Kepuasan karyawan hari ini akan keluar melampaui tempat kerja dan memasuki ranah social. Apabila ada karyawan tidak puas dan menampilkannya di social media, maka kita punya masalah.”

3.3 JALAN YANG PANJANG UNTUK MERAIH BIG DATA

Sama seperti penelitian bisnis pada umumnya, proses penggunaan big data menuntut para profesional untuk mengetahui objektif bisnis apa yang ingin diraih, menciptakan cara untuk mendapatkan data yang relevan, menentukan bagaimana penelitian dan interpretasi akan diaktualisasikan, merancang variabel penelitian, dan mengimplementasikan penelitian yang telah direncanakan.

Namun begitu, penting untuk diketahui bahwa ada dua tantangan yang terbesar dari big data yaitu bagaimana mendapatkan data yang diinginkan dan mengintegrasikan data yang berbeda.

3.4 PERBEDAAN BIG DATA DENGAN BUSINESS INTELLIGENCE

Perbedaan yang mendasar adalah bagaimana konsep Big Data dan Business Intelligence memproses data.Untuk menghadapi volume yang tinggi, prinsip Business Intelligence mengajak kita untuk membersihkan data yang ada. Proses pembersihan ini akan membuang residu yang dianggap tidak penting. Sedangkan prinsip Big Data adalah untuk tidak membuang data apapun karena residu tersebut mungkin akan menjadi penting sejalannya waktu.

Untuk menghadapi velositas yang tinggi, prinsip Business Intelligence mengajak kita untuk melakukan operasi batch secara teratur. Operasi ini akan medorong data dari sistem transaksi ke data warehouse untuk diproses selanjutnya. Sedangkan prinsip Big Data adalah real-time processing.

Untuk menghadapi variasi data yang tinggi, prinsip Business Intelligence mengajak kita untuk menciptakan struktur melalui  ekstraksi, transformasi dan membuang residu yang tersisa. Big Data memiliki pendekatan yang serupa namun tanpa harus membuang data mentah yang kita miliki. Misalnya dari sebuah unstructured data kita bisa melakukan entity resolution untuk mengekstrak konteks sebuah kata (contoh: Apple adalah perusahaan atau label rekaman atau buah). Kalkulasi ini biasanya dilakukan secara real time.



















BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Kesimpulan makalah ini adalah :

Big Data bukanlah semata-mata hanya soal ukuran, bukan hanya tentang data yang berukuran raksasa. Big data adalah data berukuran raksasa yang volumenya terus bertambah, terdiri dari berbagai jenis atau varietas data, terbentuk secara terus menerus dengan kecepatan tertentu dan harus diproses dengan kecepatan tertentu pula.

Momen awal ketenaran istilah ‘big data’ adalah kesuksesan Google dalam memberdayakan ‘big data’ dengan menggunakan teknologi canggihnya yang disebut Bigtable beserta teknologi-teknologi pendukungnya.

4.2 Saran

Penerapan Big Data sebaiknya dilakukan sesuai kebutuhan perusahaan sehingga dapat menghasilkan strategi bisnis yang solutif dan implementatif.














DAFTAR PUSTAKA


Sutanto, Taufik. (2013). Big Data & Kurikulum: Berbagi Pengalaman Kecil.

Nandonurhadi. (2013). Sejarah Big Data dan Big Data Landscape.
http://nandonurhadi.wordpress.com/2013/07/25/sejarah-big-data-dan-big-data-landscape/

https://id.wikipedia.org/