Disaster Recovery Data Plan
PAPER KELOMPOK
TOPIK-TOPIK
LANJUTAN
SISTEM INFORMASI
Oleh
Kevi
Rizkianto – 1501193681
Michael Samuel C – 1501148204
Stefannus Danny – 1501152012
06PJM / 2
Binus
University
Jakarta
2014
Binus University
Jurusan
Sistem Informasi
Paper
Kelompok Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi
Semester
Genap tahun 2014
Disaster Recovery Data Plan
Kevi
Rizkianto – 1501193681
Michael Samuel C – 1501148204
Stefannus Danny – 1501152012
06PJM / 2
Abstrak
Dalam mengelola sebuah
perusahaan terkadang ada kemungkinan terjadi sesuatu kejadian-kejadian yang
dapat membahayakan suatu perusahaan. Bencana alam seperti banjir, gedung
terbakar, aset IT hilang adalah sesuatu yang mungkin saja terjadi. Salah satu
elemen terpenting yang harus dimiliki suatu perusahaan adalah adanya sebuah
standart prosedur mengenai adanya Disaster
Recovery Plan yaitu sebuah prosedur dalam mengangani suatu keadaan darurat
yang dapat membahayakan perusahaan.
Pentingnya Disaster Recovery Plan ini tidak
terlepas dari akibat dari bencana itu sendiri.Bayangkan apabila sebuah Bank
bertaraf nasional dimana Bank tersebut telah menginvestasikan sebagian besar
asetnya untuk Teknologi Informasi. Ada suatu keadaan dimana server yang
biasanya untuk menyimpan data nasabah tiba-tiba rusak, dan celakanya bank tersebut
ternyata belum mempunyai prosedur untuk mengatasinya. disini bisa kita
bayangkan akibatnya, data hilang, data sulit di akses dll. Akibatnya, core
bisnis bank dalam melayani nasabah akan terganggu. Tentu saja hal ini akan
menyebabkan pendapatan akan turun secara drastis
Hampir semua perusahaan
diharuskan mempunyai Recovery Disaster Plan.Baik itu perusahaan kecil maupun besar
ataupun perusahaan dengan core bisnis yang berbermacam-macam. Sebuah perusahaan
yang mempunyai core bisnis tentang IT akan membutuhkan IT disaster recovery
planing. Dimana dengan adanya standart ini dimungkinkan adanya prosedur atau
tindakan yang dilakukan ketika suatu bencana terjadi. Pentingnya
aturan/prosedur ini terutama berkaitan dengan pengamanan data karena proses
bisnis sebuah perusahaan IT sangan erat kaitannya dengan pengelolaan data serta
keamanan software maupun hardware .
Kata Kunci
Disaster Recovery
Planning, Disaster(Bencana)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bencana
merupakan suatu kejadian yang selalu ada dan terjadi dalam sejarah manusia
hidup,Bencana terus memberikan mimpi buruk bagi manusia yang selalu menimbulkan
kerugian oleh karena itu manusia terus mencoba terus dan membuat langkah agar
bisa menghilangkan bencana atau bebas dari bencana tersebut, dari hasil riset
dan percobaan lahirlah praktek mitigasi, seperti mitigasi banjir,mitigasi
kekeringan,dll
Pada zaman
dahulu di Mesir, beberapa praktek mitigasi juga diterapkan salah satunya
mitigasi kekeringan yang sudah berusia lebih dari 4000 tahun. Konsep tentang Early Warning System untuk kelaparan (famine) dan kesiap-siagaan (preparedness) dengan lumbung raksasa
yang disiapkan selama tujuh tahun pertama kelimpahan dan digunakan
Selama tujuh
tahun kekeringan sudah lahir pada tahun 2000.
Dan juga Konsep management bencana mengenai pencegahan (Prevention) atas bencana atau kutukan penyakit (plague), pada abad-abad ‘non-peradababan’ selalu diceritakan ulang dalam simbol simbol’ seperti kurban, penyangkalan diri dan pengakuan dosa. Early warning kebanyakan didasarkan pada Astrologi atau ilmu Bintang. Tak heran mengapa kata bencana (DISASTER) secara etimologis berasal dari kata DIS yang berarti sesuatu yang tidak enak (unfavorable) dan ASTRO yang berarti bintang (stars). Dis-astro berarti an event precipitated by stars (peristiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi).
Peristiwa
Tsunami di Lisbon, Portugal pada tanggal 1 November 1755, mencatat bahwa ada
respon bantuan dari Negara secara ‘ala kadar’.Total orang yang meninggal
diperkirakan 70,000 orang dari 275,000 penduduk.
Pada tahun 2004,
dari publikasi tulisan-tulisan tentang management bencana, telah terjadi
perubahan paradigma. Sebagai misal di Banglades dan Vietnam, khususnya yang
hidup di DAS Mekong, yang semulanya bermimpi untuk bebas dari banjir (free from flood), akhirnya memutuskan
untuk hidup bersama banjir (living with
flood). Tentunya komitmen hidup bersama banjir, tetap dilandasi oleh
semangat bahwa banjir atau ancaman alam lainnya seperti gempa, siklon, dan
kekeringan boleh terjadi tetapi bencana tidak harus terjadi.
Di Timor,
khususnya masyarakat Besikama, sudah sangat lama hidup bersama banjir.
Masyarakat tradisional Besikama sebenarnya sudah mengenal tentang praktek
mitigasi banjir berdasarkan konstruksi rumah tradisional mereka sejak lama,
yakni rumah panggung, yang sudah sangat tidak popular karena ‘pembangunan’
mengajarkan segala segala sesuatu yang ‘modern’.
Disaster (bencana) didefiniskan sebagai
kejadian yang waktu terjadinya tidak dapat diprediksi dan bersifat sangat
merusak. Pengertian ini mengidentifikasikan sebuah kejadian yang memiliki empat
faktor utama, yaitu :
- Tiba-tiba
- Tidak
diharapkan
- Bersifat
sangat merusak
- Kurang
perencanaan
Bencana terjadi
dengan frekuensi yang tidak menentu dan akibat yang ditimbulkannya meningkat
bagi mereka yang tidak mempersiapkan diri terhadap kemungkinan-kemungkinan
timbulnya bencana. Rencana pencegahan dan perbaikan terhadap bencana dapat
membantu melindungi semua aset organisasi, termasuk sumber daya manusia,
pekerjaan, data-data penting, dan fasilitas organisasi. Salah satu solusi
penanggulangan dini terhadap bencana yang terjadi adalah Disaster Recovery Plan yang sedang tren di gunakan dalam Perusahaan
1.2 Ruang Lingkup
Mengingat
luasnya cakupan ruang lingkup green
computing, maka ruang lingkup yang dibahas dibatasi pada :
1.
Penjelasan tentang Disaster
Recovery Planning .
2.
Tahap penerapan Disaster
Recovery Planning.
1.3
Tujuan dan
Manfaat
Berdasarkan
pembahasan pada latar belakang, maka dapat ditentukan tujuan penelitian ini,
yaitu untuk mengetahui perkembangan Disaster
Recovery Planning yang ada di Indonesia.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan manfaat-manfaat sebagai berikut :
1.
Memberikan
pengetahuan kepada pembaca mengenai pentingnya Disaster Recovery Planning.
2. Pembaca dapat menggunakan Disaster Recovery Planning untuk menyediakan suatu cara yang terorganisir
untuk membuat keputusan terhadap suatu bencana
1.4 Metodologi
Penelitian
Metode yang digunakan terdiri dari beberapa
bagian, yaitu :
1. Studi pustaka
Metode
pengumpulan informasi yang digunakan melalui studi artikel media internet dan
buku-buku referensi yang dapat dijadikan sumber dan panduan dalam penyusunan
penulisan ini.
2. Metode Analisis
Metode
analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menganalisis dan me-review perkembangan Disaster Recovery Planning
yang ada di
Indonesia.
1.5
Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah pembahasan dan memberikan gambaran yang sistematis
dalam memahami topik yang disajikan, kami membagi paper ini ke dalam
bagian-bagian berupa bab yaitu :
BAB I :
Pendahuluan
Dalam
bab ini diuraikan tentang masalah pokok yang dibahas dalam paper ini, yang
terdiri dari Latar Belakang, Ruang Lingkup, Tujuan dan Manfaaat, Metodologi
Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
BAB II : Landasan Teori
Dalam bab ini akan menguraikan teori atau konsep yang
melandasi hal-hal yang terdapat dalam penelitian ini, secara umum dijelaskan
tentang teori-teori yang berhubungan dengan kinerja sistem informasi baik
dikutip dari berbagai referensi maupun hasil riset yang didapat.
BAB III : Pembahasan
Dalam bab ini berisi hasil penelitian yang dilakukan
dalam rangka mencapai tujuan dan manfaat yang ditetapkan pada pendahuluan. Lalu
menunjukkan bagaimana pemikiran atau temuan-temuan diperoleh,
menginterpretasikan temuan, dan mengaitkannya dengan teori yang digunakan.
BAB IV : Penutup
Dalam bab ini penulis akan menarik bebarapa kesimpulan
berdasarkan petunjuk dari buku-buku referensi, internet, dan seminar
teori-teori lanjutan sistem informasi serta saran yang mungkin akan diterapkan
untuk kemajuan perusahaan.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Sistem Informasi
Sistem
Informasi (SI) adalah kombinasi dari teknologi informasi dan aktivitas orang yang
menggunakan teknologi itu untuk mendukung operasi dan manajemen. Dalam arti
yang sangat luas, istilah sistem informasi yang
sering digunakan merujuk kepada interaksi antara orang, proses algoritmik,
data, dan teknologi. Dalam pengertian ini, istilah ini digunakan untuk merujuk
tidak hanya pada penggunaan organisasi teknologi informasi dan komunikasi
(TIK), tetapi juga untuk cara di mana orang berinteraksi dengan teknologi ini
dalam mendukung proses bisnis. (Wikipedia)
Menurut definisi diatas, penerapan
sistem informasi melibatkan banyak hal yakni sumber daya manusia (SDM),
teknologi, network, cara kerja dan pengelolaannya.
2.2 Disaster
Recovery Planning (DRP)
Disaster Recovery Planning (DRP) adalah rencana yang fokus pada sistem
teknologi informasi yang diterapkan pada data center untuk memperbaiki
operabilitas sistem target, aplikasi, dan fasilitas komputer dilokasi
alternatif dalam kondisi darurat. (Wikipedia)
2.3 Business Continuity Plan (BCP)
Business Continuity Plan (BCP) adalah rencana yang fokus untuk
mempertahankan kelangsungan fungsi bisnis saat gangguan terjadi dan sesudahnya
sehingga dapat meminimalisasi kerugian yang diakibatkan oleg bencana. (Wikipedia)
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Manajemen proteksi fasilitas
1.
Manajemen
kebocoran air dan air bah.
Lokasi aset strategis ditempatkan pada
wilayah lebih tinggi dan jauh dari bencana airbah
yang lalu. Bahan bangunan dan bentuk
bangunan anti bencana atau tahan
bencana air bah atau kebocoran. Sistem
pengeringan (drainage) air yang masuk agar
dapat segera keluar kembali dan kering.
2.
Manajemen
risiko kebakaran atau panas berlebihan.
Bangunan tahan api, sumber api
diminimumkan, misalnya arus pendek listrik
dihindari dengan sistem listrik (automatic
shutdown bila terjadi arus pendek) dan
kualitas bahan (kabel dll). Membangun
hubungan dengan pemadam kebakaran,
pelatihan penggunaan sarana pemadam
kebakaran bagi karyawan. Bentuk bangunan
yang tak menyebabkan penjalaran sumber
api atau peledakan karena api.
3. Risiko power terdiri dari kegagalan
transformasi, kerusakan jaringan (kabel dll),
petir, kegagalan fungsi sarana
pendukung power, tenaga pasok power tak cukup,
sabotase atau terorisme. Manajemen
mengembangkan UPS, power cadangan (genset
dll), dan meningkatkan tingkat handal
pasok energi.
4. Pengendalian akses fisik terhadap
aset yang mengandung risiko bencana karena
penggunaan yang keliru, ceroboh atau
sabotase para pengguna dan atau karyawan
entitas sendiri, termasuk masuknya
virus kepada sistem.
3.2 STRATEGI PENGAMANAN SISTEM
Strategi backup sistem adalah
sebagai berikut :
1. Buat daftar aplikasi yang paling
vital, identifikasi komponen sistem yang paling
berisiko.
2. Buat daftar user yang paling
menghadapi risiko, ragam user, banyaknya user,
perilaku user, input data dan format,
output dan format, perangkat keras pemroses
data, perangkat pendukung, dan
dokumentasi.
3. Ketahui konfigurasi minimum dari
perangkat keras, ketahui info minimum yang
harus terjaga untuk menjamin
operasi/kegiatan sehari hari dapat berjalan.
4. Periksa tingkat handal CPU/Kapasitas
simpan, sistem terminal, UPS dan perangkat
khusus lain.
3.3 Strategi manajemen bencana informasi
Strategi manajemen bencana informasi
adalah sbb :
1. Membangun prosedur reaksi terhadap
bencana, mulai dari kewaspadaan membaca
signal-gejala dini bahaya sampai
prosedur evakuasi.
2. Membangun prosedur penyampaian
berita bencana kepada para pengambil keputusan,
pilihan sarana berdasar sasaran berita
(penerima berita bencana), maksud berita (agar
penerima melakukan sesuatu) dan bentuk
berita.
3. Prosedur pemberitaan publik tentang
bencana, ukuran bencana, dampak bencana,
rencana evakuasi dan penanggulangan
bencana.
3.
Prosedur
pemulihan kerusakan akibat bencana.
5. Prosedur pemulihan jaringan.
6. Prosedur pemulihan sarana para
pemakai.
7. Prosedur pembuangan sarana rusak.
8. Prosedur relokasi.
3.4 Pembangunan tim – tim khusus
penanganan bencana informasi
1. Tim aktivitas gawat darurat, yang
dilatih terus menerus untuk tugas evakuasi manusia
dan peralatan, membaca tanda-tanda
bahaya dan segera mengevakuasi diri dari bahaya
sambil melaporkan bahaya, menyalakan
sarana pencegah bahaya seperti
alarm.
2. Tim penilai kerusakan bertugas pada
saat proses evakuasi dilaksanakan, menilai besar
kerusakan fisik akibat bencana,
menaksir biaya pemulihan fisik. Tim terdiri dari pakar
teknologi informasi.
3. Tim manajemen gawat darurat,
bertugas mengkoordinasi berbagai tim dalam DRP
agar mampu mengambil keputusan bersama
secara terintegrasi dan kohesive, bertugas
untuk mengatur pendanaan/pembiayaan
pemulihan pasca bencana. Tim ini mengambil
keputusan yang bersifat stratejik, yang
menjadi landasan bagi tim-tim lain.
4. Tim penyimpan data back up bertugas
mengirim data back up kembali ke daerah pasca
bencana, sesuai kemampuan wilayah
bencana menerima data pengganti data hilang
karena bencana.
5. Tim perangkat lunak bertugas
memasang perangkat lunak pengganti yang hilang atau
rusak, mereparasi dan menyambung
perangkat lunak yang masih dapat bekerja,
melakukan test/uji coba perangkat lunak
yang dipasang, disambung, diintegrasi atau
diganti edisi yang lebih mutakhir.
6. Tim aplikasi bekerja sama dengan Tim
Perangkat lunak, berjalan berkeliling pada
wilayah kena bencana, melakukan uji
coba perangkat lunak, memantau kinerja para
pengguna perangkat lunak, menilai
sistem security dan kualitas database.
7. Tim Pemulihan Jaringan, bertanggung
jawab mengatur kembali rute data, komunikasi
dan lalu lintas data, dan membangun
host.
8. Tim komunikasi berjalan berkeliling
pada wilayah pemulihan dan memasang
perangkat keras komunikasi, gerbang,
dan lain-lain.
9. Tim transportasi mengangkut
karyawan, tim-tim lain dan peralatan kerja.
10. Tim Pengguna Perangkat Keras,
memasang semua perlatan yang dibutuhkan user
seperti terminal, printer, scanner dan
lain-lain.
11. Tim logistik untuk komputer,
penyedia kertas komputer, lempeng disk, juga bertugas
untuk hubungan dengan pemasok.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Kesimpulan makalah ini adalah :
Disaster recovery plan merupakan program yang tertulis dan telah disetujui,
diimplementasikan, serta dievaluasi secara periodik, yang menfokuskan pada
semua aksi yang perlu dilakukan sebelum, ketika, dan setelah bencana. Rencana
ini disusun berdasarkan review secara menyeluruh terhadap bencana-bencana yang
potensial, yang mencakup lingkup fasilitas, lokasi geografis, atau industri
Karena penting bagi Pemda, karangan ini
disebarluaskan kembali melalui situs. Tulisan ini terutama disusun bagi Pemda
yang rawan bencana alam, agar jangan terjebak pada posisi buta informasi dan
buta posisi pada saat seluruh data dan rencana masa depan pemerintah daerah
hilang lenyap ditelan bencana.
4.2
Saran
Sebaiknya
penerapan strategi dalam disaster recovery plan benar-benar dijalankan secara
keseluruhan pada perusahaan indonesia tanpa memilih hanya berdasarkan
forecasting yang ada
DAFTAR PUSTAKA
Arwandy, Johanson & Andy. (2013). Oracle Data Guard PT. Indesso Niagatama
Untuk Keberlangsungan Data Bisnis, Jakarta
Panca.
(2007). Tahap perencanaan pembangunan
Disaster Recovery Plan
https://id.wikipedia.org/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar