Sabtu, 08 Maret 2014

Topic 2 : Disaster Recovery Data Plan


Disaster Recovery Data Plan


PAPER KELOMPOK
TOPIK-TOPIK LANJUTAN
SISTEM INFORMASI





Oleh


Kevi Rizkianto – 1501193681
Michael Samuel C – 1501148204
Stefannus Danny – 1501152012

06PJM / 2














Binus University
Jakarta
2014






Binus University

Jurusan Sistem Informasi
Paper Kelompok Topik-Topik Lanjutan Sistem Informasi
Semester Genap tahun 2014

Disaster Recovery Data Plan

Kevi Rizkianto – 1501193681
Michael Samuel C – 1501148204
Stefannus Danny – 1501152012

06PJM / 2


Abstrak

Dalam mengelola sebuah perusahaan terkadang ada kemungkinan terjadi sesuatu kejadian-kejadian yang dapat membahayakan suatu perusahaan. Bencana alam seperti banjir, gedung terbakar, aset IT hilang adalah sesuatu yang mungkin saja terjadi. Salah satu elemen terpenting yang harus dimiliki suatu perusahaan adalah adanya sebuah standart prosedur mengenai adanya Disaster Recovery Plan yaitu sebuah prosedur dalam mengangani suatu keadaan darurat yang dapat membahayakan perusahaan.

Pentingnya Disaster Recovery Plan ini tidak terlepas dari akibat dari bencana itu sendiri.Bayangkan apabila sebuah Bank bertaraf nasional dimana Bank tersebut telah menginvestasikan sebagian besar asetnya untuk Teknologi Informasi. Ada suatu keadaan dimana server yang biasanya untuk menyimpan data nasabah tiba-tiba rusak, dan celakanya bank tersebut ternyata belum mempunyai prosedur untuk mengatasinya. disini bisa kita bayangkan akibatnya, data hilang, data sulit di akses dll. Akibatnya, core bisnis bank dalam melayani nasabah akan terganggu. Tentu saja hal ini akan menyebabkan pendapatan akan turun secara drastis

Hampir semua perusahaan diharuskan mempunyai Recovery Disaster Plan.Baik itu perusahaan kecil maupun besar ataupun perusahaan dengan core bisnis yang berbermacam-macam. Sebuah perusahaan yang mempunyai core bisnis tentang IT akan membutuhkan IT disaster recovery planing. Dimana dengan adanya standart ini dimungkinkan adanya prosedur atau tindakan yang dilakukan ketika suatu bencana terjadi. Pentingnya aturan/prosedur ini terutama berkaitan dengan pengamanan data karena proses bisnis sebuah perusahaan IT sangan erat kaitannya dengan pengelolaan data serta keamanan software maupun hardware .

Kata Kunci

Disaster Recovery Planning, Disaster(Bencana)




BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Bencana merupakan suatu kejadian yang selalu ada dan terjadi dalam sejarah manusia hidup,Bencana terus memberikan mimpi buruk bagi manusia yang selalu menimbulkan kerugian oleh karena itu manusia terus mencoba terus dan membuat langkah agar bisa menghilangkan bencana atau bebas dari bencana tersebut, dari hasil riset dan percobaan lahirlah praktek mitigasi, seperti mitigasi banjir,mitigasi kekeringan,dll

Pada zaman dahulu di Mesir, beberapa praktek mitigasi juga diterapkan salah satunya mitigasi kekeringan yang sudah berusia lebih dari 4000 tahun. Konsep tentang Early Warning System untuk kelaparan (famine) dan kesiap-siagaan (preparedness) dengan lumbung raksasa yang disiapkan selama tujuh tahun pertama kelimpahan dan digunakan
Selama tujuh tahun kekeringan sudah lahir pada tahun 2000.

Dan juga Konsep management bencana mengenai pencegahan (Prevention) atas bencana atau kutukan penyakit (plague), pada abad-abad ‘non-peradababan’ selalu diceritakan ulang dalam simbol simbol’ seperti kurban, penyangkalan diri dan pengakuan dosa. Early warning kebanyakan didasarkan pada Astrologi atau ilmu Bintang. Tak heran mengapa kata bencana (DISASTER) secara etimologis berasal dari kata DIS yang berarti sesuatu yang tidak enak (unfavorable) dan ASTRO yang berarti bintang (stars). Dis-astro berarti an event precipitated by stars (peristiwa jatuhnya bintang-bintang ke bumi).

Peristiwa Tsunami di Lisbon, Portugal pada tanggal 1 November 1755, mencatat bahwa ada respon bantuan dari Negara secara ‘ala kadar’.Total orang yang meninggal diperkirakan 70,000 orang dari 275,000 penduduk.

Pada tahun 2004, dari publikasi tulisan-tulisan tentang management bencana, telah terjadi perubahan paradigma. Sebagai misal di Banglades dan Vietnam, khususnya yang hidup di DAS Mekong, yang semulanya bermimpi untuk bebas dari banjir (free from flood), akhirnya memutuskan untuk hidup bersama banjir (living with flood). Tentunya komitmen hidup bersama banjir, tetap dilandasi oleh semangat bahwa banjir atau ancaman alam lainnya seperti gempa, siklon, dan kekeringan boleh terjadi tetapi bencana tidak harus terjadi.
Di Timor, khususnya masyarakat Besikama, sudah sangat lama hidup bersama banjir. Masyarakat tradisional Besikama sebenarnya sudah mengenal tentang praktek mitigasi banjir berdasarkan konstruksi rumah tradisional mereka sejak lama, yakni rumah panggung, yang sudah sangat tidak popular karena ‘pembangunan’ mengajarkan segala segala sesuatu yang ‘modern’.

Disaster (bencana) didefiniskan sebagai kejadian yang waktu terjadinya tidak dapat diprediksi dan bersifat sangat merusak. Pengertian ini mengidentifikasikan sebuah kejadian yang memiliki empat faktor utama, yaitu :
- Tiba-tiba
- Tidak diharapkan
- Bersifat sangat merusak
- Kurang perencanaan

Bencana terjadi dengan frekuensi yang tidak menentu dan akibat yang ditimbulkannya meningkat bagi mereka yang tidak mempersiapkan diri terhadap kemungkinan-kemungkinan timbulnya bencana. Rencana pencegahan dan perbaikan terhadap bencana dapat membantu melindungi semua aset organisasi, termasuk sumber daya manusia, pekerjaan, data-data penting, dan fasilitas organisasi. Salah satu solusi penanggulangan dini terhadap bencana yang terjadi adalah Disaster Recovery Plan yang sedang tren di gunakan dalam Perusahaan
                                                    


1.2  Ruang Lingkup

Mengingat luasnya cakupan ruang lingkup green computing, maka ruang lingkup yang dibahas dibatasi pada :

1.      Penjelasan tentang Disaster Recovery Planning .
2.      Tahap penerapan Disaster Recovery Planning.


1.3  Tujuan dan Manfaat

Berdasarkan pembahasan pada latar belakang, maka dapat ditentukan tujuan penelitian ini, yaitu untuk mengetahui perkembangan Disaster Recovery Planning yang ada di Indonesia.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat-manfaat sebagai berikut :
1.      Memberikan pengetahuan kepada pembaca mengenai pentingnya Disaster Recovery Planning.
2.      Pembaca dapat menggunakan Disaster Recovery Planning untuk menyediakan suatu cara yang terorganisir untuk membuat keputusan terhadap suatu bencana

1.4  Metodologi Penelitian

Metode yang digunakan terdiri dari beberapa bagian, yaitu :

1.      Studi pustaka
Metode pengumpulan informasi yang digunakan melalui studi artikel media internet dan buku-buku referensi yang dapat dijadikan sumber dan panduan dalam penyusunan penulisan ini.

2.      Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menganalisis dan me-review perkembangan Disaster Recovery Planning yang ada di Indonesia.


1.5  Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembahasan dan memberikan gambaran yang sistematis dalam memahami topik yang disajikan, kami membagi paper ini ke dalam bagian-bagian berupa bab yaitu :

BAB I    : Pendahuluan
                 Dalam bab ini diuraikan tentang masalah pokok yang dibahas dalam paper ini, yang terdiri dari Latar Belakang, Ruang Lingkup, Tujuan dan Manfaaat, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan.


BAB II  : Landasan Teori
Dalam bab ini akan menguraikan teori atau konsep yang melandasi hal-hal yang terdapat dalam penelitian ini, secara umum dijelaskan tentang teori-teori yang berhubungan dengan kinerja sistem informasi baik dikutip dari berbagai referensi maupun hasil riset yang didapat.

BAB III : Pembahasan
Dalam bab ini berisi hasil penelitian yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan dan manfaat yang ditetapkan pada pendahuluan. Lalu menunjukkan bagaimana pemikiran atau temuan-temuan diperoleh, menginterpretasikan temuan, dan mengaitkannya dengan teori yang digunakan.

BAB IV : Penutup
Dalam bab ini penulis akan menarik bebarapa kesimpulan berdasarkan petunjuk dari buku-buku referensi, internet, dan seminar teori-teori lanjutan sistem informasi serta saran yang mungkin akan diterapkan untuk kemajuan perusahaan.


























BAB II
LANDASAN TEORI

2.1  Sistem Informasi

Sistem Informasi (SI) adalah kombinasi dari teknologi informasi dan aktivitas orang yang menggunakan teknologi itu untuk mendukung operasi dan manajemen. Dalam arti yang sangat luas, istilah sistem informasi yang sering digunakan merujuk kepada interaksi antara orang, proses algoritmik, data, dan teknologi. Dalam pengertian ini, istilah ini digunakan untuk merujuk tidak hanya pada penggunaan organisasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), tetapi juga untuk cara di mana orang berinteraksi dengan teknologi ini dalam mendukung proses bisnis. (Wikipedia)

Menurut definisi diatas, penerapan sistem informasi melibatkan banyak hal yakni sumber daya manusia (SDM), teknologi, network, cara kerja dan pengelolaannya.

2.2  Disaster Recovery Planning (DRP)
Disaster Recovery Planning (DRP) adalah rencana yang fokus pada sistem teknologi informasi yang diterapkan pada data center untuk memperbaiki operabilitas sistem target, aplikasi, dan fasilitas komputer dilokasi alternatif dalam kondisi darurat. (Wikipedia)


2.3   Business Continuity Plan (BCP)

Business Continuity Plan (BCP) adalah rencana yang fokus untuk mempertahankan kelangsungan fungsi bisnis saat gangguan terjadi dan sesudahnya sehingga dapat meminimalisasi kerugian yang diakibatkan oleg bencana. (Wikipedia)

























BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Manajemen proteksi fasilitas

1.      Manajemen kebocoran air dan air bah.

Lokasi aset strategis ditempatkan pada wilayah lebih tinggi dan jauh dari bencana airbah
yang lalu. Bahan bangunan dan bentuk bangunan anti bencana atau tahan
bencana air bah atau kebocoran. Sistem pengeringan (drainage) air yang masuk agar
dapat segera keluar kembali dan kering.

2.      Manajemen risiko kebakaran atau panas berlebihan.

Bangunan tahan api, sumber api diminimumkan, misalnya arus pendek listrik
dihindari dengan sistem listrik (automatic shutdown bila terjadi arus pendek) dan
kualitas bahan (kabel dll). Membangun hubungan dengan pemadam kebakaran,
pelatihan penggunaan sarana pemadam kebakaran bagi karyawan. Bentuk bangunan
yang tak menyebabkan penjalaran sumber api atau peledakan karena api.

3. Risiko power terdiri dari kegagalan transformasi, kerusakan jaringan (kabel dll),
petir, kegagalan fungsi sarana pendukung power, tenaga pasok power tak cukup,
sabotase atau terorisme. Manajemen mengembangkan UPS, power cadangan (genset
dll), dan meningkatkan tingkat handal pasok energi.

4. Pengendalian akses fisik terhadap aset yang mengandung risiko bencana karena
penggunaan yang keliru, ceroboh atau sabotase para pengguna dan atau karyawan
entitas sendiri, termasuk masuknya virus kepada sistem.

3.2 STRATEGI PENGAMANAN SISTEM

Strategi backup sistem adalah sebagai berikut :

1. Buat daftar aplikasi yang paling vital, identifikasi komponen sistem yang paling
berisiko.

2. Buat daftar user yang paling menghadapi risiko, ragam user, banyaknya user,
perilaku user, input data dan format, output dan format, perangkat keras pemroses
data, perangkat pendukung, dan dokumentasi.

3. Ketahui konfigurasi minimum dari perangkat keras, ketahui info minimum yang
harus terjaga untuk menjamin operasi/kegiatan sehari hari dapat berjalan.

4. Periksa tingkat handal CPU/Kapasitas simpan, sistem terminal, UPS dan perangkat
khusus lain.

3.3 Strategi manajemen bencana informasi

Strategi manajemen bencana informasi adalah sbb :

1. Membangun prosedur reaksi terhadap bencana, mulai dari kewaspadaan membaca
signal-gejala dini bahaya sampai prosedur evakuasi.

2. Membangun prosedur penyampaian berita bencana kepada para pengambil keputusan,
pilihan sarana berdasar sasaran berita (penerima berita bencana), maksud berita (agar
penerima melakukan sesuatu) dan bentuk berita.

3. Prosedur pemberitaan publik tentang bencana, ukuran bencana, dampak bencana,
rencana evakuasi dan penanggulangan bencana.

3.      Prosedur pemulihan kerusakan akibat bencana.

5. Prosedur pemulihan jaringan.

6. Prosedur pemulihan sarana para pemakai.

7. Prosedur pembuangan sarana rusak.

8. Prosedur relokasi.

3.4 Pembangunan tim – tim khusus penanganan bencana informasi

1. Tim aktivitas gawat darurat, yang dilatih terus menerus untuk tugas evakuasi manusia
dan peralatan, membaca tanda-tanda bahaya dan segera mengevakuasi diri dari bahaya
sambil melaporkan bahaya, menyalakan sarana pencegah bahaya seperti
alarm.

2. Tim penilai kerusakan bertugas pada saat proses evakuasi dilaksanakan, menilai besar
kerusakan fisik akibat bencana, menaksir biaya pemulihan fisik. Tim terdiri dari pakar
teknologi informasi.

3. Tim manajemen gawat darurat, bertugas mengkoordinasi berbagai tim dalam DRP
agar mampu mengambil keputusan bersama secara terintegrasi dan kohesive, bertugas
untuk mengatur pendanaan/pembiayaan pemulihan pasca bencana. Tim ini mengambil
keputusan yang bersifat stratejik, yang menjadi landasan bagi tim-tim lain.

4. Tim penyimpan data back up bertugas mengirim data back up kembali ke daerah pasca
bencana, sesuai kemampuan wilayah bencana menerima data pengganti data hilang
karena bencana.

5. Tim perangkat lunak bertugas memasang perangkat lunak pengganti yang hilang atau
rusak, mereparasi dan menyambung perangkat lunak yang masih dapat bekerja,
melakukan test/uji coba perangkat lunak yang dipasang, disambung, diintegrasi atau
diganti edisi yang lebih mutakhir.







6. Tim aplikasi bekerja sama dengan Tim Perangkat lunak, berjalan berkeliling pada
wilayah kena bencana, melakukan uji coba perangkat lunak, memantau kinerja para
pengguna perangkat lunak, menilai sistem security dan kualitas database.

7. Tim Pemulihan Jaringan, bertanggung jawab mengatur kembali rute data, komunikasi
dan lalu lintas data, dan membangun host.

8. Tim komunikasi berjalan berkeliling pada wilayah pemulihan dan memasang
perangkat keras komunikasi, gerbang, dan lain-lain.

9. Tim transportasi mengangkut karyawan, tim-tim lain dan peralatan kerja.

10. Tim Pengguna Perangkat Keras, memasang semua perlatan yang dibutuhkan user
seperti terminal, printer, scanner dan lain-lain.

11. Tim logistik untuk komputer, penyedia kertas komputer, lempeng disk, juga bertugas
untuk hubungan dengan pemasok.




























BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Kesimpulan makalah ini adalah :

Disaster recovery plan merupakan program yang tertulis dan telah disetujui, diimplementasikan, serta dievaluasi secara periodik, yang menfokuskan pada semua aksi yang perlu dilakukan sebelum, ketika, dan setelah bencana. Rencana ini disusun berdasarkan review secara menyeluruh terhadap bencana-bencana yang potensial, yang mencakup lingkup fasilitas, lokasi geografis, atau industri

Karena penting bagi Pemda, karangan ini disebarluaskan kembali melalui situs. Tulisan ini terutama disusun bagi Pemda yang rawan bencana alam, agar jangan terjebak pada posisi buta informasi dan buta posisi pada saat seluruh data dan rencana masa depan pemerintah daerah hilang lenyap ditelan bencana.

4.2 Saran

Sebaiknya penerapan strategi dalam disaster recovery plan benar-benar dijalankan secara keseluruhan pada perusahaan indonesia tanpa memilih hanya berdasarkan forecasting yang ada





























DAFTAR PUSTAKA


Arwandy, Johanson & Andy. (2013). Oracle Data Guard PT. Indesso Niagatama Untuk Keberlangsungan Data Bisnis, Jakarta


Panca. (2007). Tahap perencanaan pembangunan Disaster Recovery Plan


https://id.wikipedia.org/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar